Artikel

Kurang Gizi pada Buah Hati Sama Saja Undang Lima Penyakit Ini

Post pada 14 Apr 2021

Gizi atau nutrisi adalah zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Terlebih dalam menghadapi pandemi Covid-19, selain disiplin menjalankan protokol kesehatan juga dibarengi upaya meningkatkan imunitas tubuh dengan makan makanan yang bergizi.
 
Di negara berkembang, termasuk Indonesia, kasus kekurangan gizi memang cukup banyak. Bayi dan balita menjadi korban paling banyak dalam kasus ini. Bayi dan balita yang mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu panjang akan mengalami masalah terkait kesehatan dan perkembangan.
 
Berikut ini beberapa penyakit kurang gizi pada bayi dan balita.
 
a. Stunting
 
Apa yang terjadi jika orangtua tidak memberikan gizi yang cukup kepada anaknya? Stunting risikonya. Stunting adalah keadaan tinggi badan di bawah standar pada umur tertentu yang akhirnya memperbesar risiko seseorang terkena penyakit tidak menular seperti diabetes , hipertensi, obesitas, dan stroke pada usia dini.
 
Kondisi stunting tidak dapat dikembalikan setelah lewat usia pertumbuhan, namun masih dapat dicegah walaupun relatif sulit diperbaiki. Oleh sebab itu, intervensi gizi terpenting untuk mencegah keadaan ini adalah dengan memperhatikan keadaan gizi perempuan yang akan hamil, keadaan gizi selama masa kehamilan, serta keadaan gizi anak baru lahir hingga usia kurang dari 2 tahun.
 
b. Kwashiorkor
 
Ini merupakan penyakit malnutrisi protein yang paling akut di dunia.  Secara spesifik, kwashiorkor diartikan sebagai kondisi kekurangan atau bahkan ketiadaan asupan protein. Gejala lain penyakit ini yaitu perut buncit, pembesaran hati, penipisan rambut dan tekstur rambut yang kasar, gigi mudah copot, dan dermatitis.

Baca juga: Makan Permen Bisa Bikin Gigi Anak Rusak? Ini Faktanya!
 
c. Marasmus 
 
Jika kwashiorkor adalah malnutrisi karena kekurangan protein meski asupan energinya cukup, maka marasmus adalah kekurangan asupan energi atau kalori dari semua bentuk makronutrien, mencakup karbohidrat, lemak, dan protein. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada anak berusia di bawah 2 tahun.
 
Ciri-ciri fisik penderita marasmus yakni kekurangan berat badan, kehilangan banyak massa otot dan jaringan lemak, pertumbuhan terhambat, kulit kering dan rambut rapuh.
 
Selain itu, penderita marasmus rentan mengalami infeksi akut seperti infeksi saluran pernapasan dan gastroenteritis, serta infeksi kronis seperti tuberkulosis.
 
d. Anemia
 
Anemia menjadi salah satu penyakit yang muncul akibat kekurangan zat besi dalam tubuh. Zat besi umumnya digunakan untuk memproduksi sel darah merah dan membawa oksigen dalam darah menuju seluruh tubuh. Jika jumlah sel darah merah sedikit, organ dan jaringan pada tubuh mengalami kekurangan oksigen yang menyebabkan fungsinya dapat terganggu.
 
e. Gondok
 
Gondok adalah penyakit yang sebagian besar disebabkan karena kekurangan yodium. Gejala khas dari gondok ini adalah pembengkakan kelenjar tiroid. Gejala lainnya mirip dengan gejala penderita hipotiroidisme, seperti lesu, lemah, tingkat metabolisme yang rendah, peningkatan kerentanan terhadap dingin, dan lain-lain.
 
Upaya mencapai keseimbangan gizi dapat dilakukan dengan menerapkan Pedoman Gizi Seimbang. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang, disebutkan empat pilar gizi seimbang. Yakni mengkonsumsi aneka ragam pangan, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik dan memantau berat badan (BB) secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal
 
Jenis-jenis makanan yang perlu dikonsumsi meliputi makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, misalnya beras, kentang, singkong, ubi jalar, jagung, talas, sagu, sukun, dan lain-lain. Lauk pauk mengandung protein dan lemak, seperti ikan, telur, unggas, daging, susu dan kacang-kacangan. Sementara, sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat.
 
Selain itu anda bisa mengkonsumsi cemilan yang kaya gizi dan nutrisi. Misalnya dengan mengonsumsi Pino Jelly High Vit C. Di tengah berbagai produk jelly saat ini, Pino Jelly hadir memiliki kelebihan yakni terdapat kandungan vitamin C yang tinggi.
 
Hal ini dapat membantu menjaga daya tahan tubuh setiap harinya. Kalori yang terkandung dalam Pino Jelly pun tergolong rendah yaitu 70 kalori/cup sehingga aman untuk dikonsumsi harian.
 
Selain itu, Pino Jelly terbuat dari konnyaku yang merupakan olahan makanan berasal dari ubi Jepang. Konnyaku sendiri cocok untuk dikonsumsi bagi yang sangat memperhatikan kesehatan dalam makanan. Kandungan serat yang tinggi dapat melancarkan pencernaan hingga membantu mencapai berat badan normal.
 
Pino Jelly tersedia dalam aroma dan rasa buah-buahan segar yakni Mangga dan Nanas dengan ukuran cup 90 gram. Kepraktisan Pino Jelly membuatnya dapat langsung dikonsumsi dan akan lebih nikmat jika dikonsumsi dalam kondisi dingin.
 
Baca juga: Ketika Makan, Ingatlah Pesan Hipocrates yang Bilang You Are What You Eat


 
 

Bagikan Artikel