Artikel

Jurus Bos UNIFAM Siapkan Diri Sambut Era Disrupsi Tanpa Tutup Lapangan Kerja  

Post pada 22 Oct 2021

Perkembangan teknologi digital telah melahirkan kondisi yang disebut disrupsi. Disrupsi sendiri adalah era di mana terjadinya inovasi dan perubahan secara besar-besaran dan secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan dan landscape yang ada ke cara baru.
 
Tak heran, saat ini pun disebut era disrupsi. Era ini telah merasuk ke hampir semua bidang pekerjaan, termasuk industri manufaktur.
 
UNIFAM sejak pertama didirikan merupakan perusahaan padat karya di mana seluruh kegiatan produksi lebih banyak dikerjakan tenaga manusia. Seiring perkembangan teknologi dan semakin bertumbuhnya bisnis UNIFAM, CEO UNIFAM Steven Wijaya memilih melakukan otomatisasi.
 
Namun Susylia Sukana, Founder dan Owner UNIFAM Group meminta Steven tidak mengganti semua tenaga kerja dengan otomasi, tetapi menyarankan metode semi otomasi. Steven mengikuti keinginan Susy.
 
“Saya sangat mengerti dan respek dengan Ibu Susy dalam hal ini. Saya sangat mengerti maksud beliau adalah supaya UNIFAM tetap bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” kata Steven.
 
Meski demikian, tak dipungkiri kondisi upah minimum provinsi (UMP) terus mengalami kenaikan cukup besar. Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi pelaku industri termasuk UNIFAM.

Baca juga: Ciptakan Lingkungan Kerja Inspiratif, UNIFAM Raih Stellar Workplace Award
 
Atas dasar itu, Steven mencari solusi agar dapat tetap membuka lapangan pekerjaan namun di sisi lain produktivitas juga tetap meningkat.
 
Ada beberapa solusi yang sudah mulai diterapkan UNIFAM terkait persoalan otomatisasi. Ia pun berusaha untuk tidak mengurangi tenaga kerja tapi di saat bersamaan meningkatkan produktivitas bisnis hingga dua kali lipat.
 
“Dengan begitu, UNIFAM berkembang, lapangan pekerjaan tetap tersedia, dan tidak ada gejolak. Jadi lebih mendorong ke business growth,”ujar Steven.
 
Demi meningkatkan produktivitas pabrik, UNIFAM telah menerapkan konsep Kaizen dan The 4 Disciplines of Execution atau lebih dikenal dengan sebutan 4DX sejak tiga tahun lalu.
 
Tak tanggung-tanggung, Steven rela terbang ke Jepang dan Seattle, Amerika Serikat untuk belajar langsung dengan salah satu muridnya Taiichi Ohno, penemu Toyota Production System and Lean manufacturing (TPS) yang bernama Tadashi Iwata.
 
Setelah mengenalkan diri, Steven menjadikan Tadashi Iwata sebagai konsultan untuk UNIFAM. Sejak itu, UNIFAM mulai menerapkan Kaizen di pabrik. Dari situ, perbaikan pabrik terus dilakukan.
 
“Jadi manajemen pabrik saat ini sudah berjalan dengan konsep Kaizen. Mudah-mudahan dengan manajemen pabrik yang sudah baik ini kita bisa bertahan, dengan tidak memecat orang. Di Cikande saja karyawan kita ada 2.000 orang. Dan investasi mesin tetap berjalan terus. Otomasi dan projek juga masih belangsung terus,”ujar Steven.
 
Steven menegaskan sekuat apa pun efisiensi, peningkatan penjualan tetap jadi tujuan utama. Alhasil, penguatan penjualan dan pemasaran  secara berkala.
 
Baca juga: Program UNIFAM Future Leaders Sedot Perhatian Ribuan Lulusan Fresh Graduate  


 

Bagikan Artikel