Expert Talks

Dampak Serius pada Anak yang Diasuh Orangtua Berkepribadian Narsistik

Post On 24 Jun 2022

Merasa lebih istimewa dari yang lain, tidak suka kritikan, ambisius pada pencapaian, sangat senang mencari pujian, suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingan sendiri. Deretan sikap yang disebut itu bisa jadi ciri-ciri orang yang memiliki kepribadian narsistik.

Kalau secara medis, biasa dikenal dengan sebutan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Seorang narsis merasa menjadi orang yang paling penting, paling hebat, tetapi tidak memiliki empati kepada orang lain. 

Semua hal yang dilakukan demi kepentingan dirinya meskipun orang lain harus menderita. Di sisi lain, kritikan menurutnya adalah sebuah ancaman yang bisa mengganggu harga dirinya sehingga cenderung menyangkal ataupun menghindari kritikan.

Ketika orangtua memiliki kepribadian narsistik, apakah berdampak negatif pada pengasuhan ke anak?

Secara umum, orangtua yang narsistik cenderung cemas mendapat kritik dalam urusan pengasuhan anak. Kecemasan ini berangkat dari kepentingan akan pengakuan sikap ‘tinggi hati’ dan ‘merasa lebih’ dibanding orangtua lain.

Orangtua merasa yakin dengan pola pengasuhannya dan enggan untuk melakukan evaluasi diri meski tahu hal yang dilakukan salah. Bahkan cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kegagalan yang terjadi dalam pengasuhan.

Kemudian, orangtua dengan kepribadian narsistik dominan memprioritaskan ego atau pun emosi diri sendiri ketimbang dari sisi anak. Alhasil, anak akan merasa tidak dihargai dan tidak dimengerti perasaannya oleh orangtua. Anak juga akan merasa terintimidasi maupun dihakimi secara berkelanjutan.

Situasi ini akan membuat kepercayaan diri anak menjadi rendah. Bahkan dalam beberapa kasus bisa memicu depresi pada anak. Anak akan menilai rasa sayang dan cinta dari orangtua tidak terlihat tulus melainkan penuh syarat. 

Lebih jauh lagi, sisi emosional anak yang diasuh orangtua berkepribadian narsistik bakal lemah karena orangtua tidak memperhatikan kebutuhan emosional anak.

“Dari sini sudah terlihat relasi orangtua dan anak menjadi kurang sehat, bahkan kaku. Situasi ini dapat memicu anak tumbuh menjadi individu yang egois, kurang toleran, dan tidak menghargai pendapat orang lain. Anak pun akan merasa ‘kosong’ dan rapuh karena merasa tidak ada orang yang bisa dijadikan sandaran ketika dibutuhkan,” jelas Desti Apryanggun, M.Psi, psikolog dari Kalbu.co.id.

BACA: Siasat Simpel agar Anak Tak Berulah Begitu Diajak Belanja ke Supermarket

Berikut adalah kondisi yang berpotensi muncul pada anak dengan pola pengasuhan orangtua narsistik.

1. Sulit mempercayai orang lain

Pola asuh orangtua narsistik akan membuat anak mengalami kesulitan memiliki kedekatan emosional dengan orang lain. Bahkan ada kemungkinan mereka tidak bisa mempercayai orang lain sehingga terlihat kesan lebih suka menyendiri dan tertutup. Hal ini bisa dialami hingga anak dewasa yang membuatnya juga kesulitan dalam menjalin relasi positif dengan pasangannya.

2. Memiliki kepercayaan diri yang rendah

Tumbuh dalam lingkungan yang menomorsatukan aturan orangtua membuat anak tidak percaya diri. Sikap ragu seringkali muncul terus-menerus. Padahal rasa percaya diri adalah hal penting karena dapat berpengaruh pada kemampuan yang ada pada diri anak. Anak pun jadi kesulitan untuk mengambil keputusan dan takut menghadapi resiko.

3. Berfokus pada hasil, bukan proses

Anak akan memandang harga dirinya berasal dari segala pencapaian yang diukur dari seberapa banyak materi, tingginya status, atau prestasi yang dimiliki. Anak jadi lebih menghargai hasil daripada proses yang dilakukan. Tidak jarang anak jadi melakukan hal apapun demi mendapatkan hasil yang memuaskan, salah satunya dengan mengambil jalan pintas.

BACA: Biar Si Kecil Nggak Bikin Isi Kulkas Kacau-balau, Siapkan  Zona Khusus Camilan

4. Tumbuh dengan kepribadian narsistik

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini dapat menggambarkan bahwa sikap narsistik orangtua dapat menurun ke anak. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orangtua secara sadar atau tidak sadar kelak akan dilakukan oleh anak. Rantai ini akan terus menerus menyambung hingga ada yang memutusnya.

Meski begitu, gangguan narsistik bisa ditangani sesegera mungkin bila individu sudah menyadari ada yang salah. Kesadaran akan muncul saat mengalami masalah yang berulang-ulang dalam berhubungan dengan orang lain dan biasanya hingga dapat menyebabkan kesedihan yang berlarut-larut.

Dampak yang dialami dapat menjadi semakin buruk jika tidak dengan segera ditangani. Hal yang bisa dilakukan untuk menekan dampak negatif dari gangguan narsistik adalah dengan melakukan psikoterapi. “Mintalah bantuan profesional dari Psikolog jika mengalami keluhan serupa yang sudah mengganggu keseharian,” pungkas Desti.

Jangan lupa untuk mengunjungi Tokopedia & Shopee UNIFAM Official Store untuk mendapatkan promo terbaik dari produk-produk UNIFAM. 

 

 

 

 

Share This Article